
a pint of doodle.
Miss myself being the kid who spit every thought in my mind to a words,--
I should have known. I should have known.
Oh, what a waste of time. Ignorant Mind
That day when the game’s over, I’m standing behind the futsal yard’s net, watching your upset face, I really want to call your name but barely even speak. After minutes walk around the field, greet everyone there, you finally walked towards me. I took in a deep breath and reached over to cup your hand in mine. With my eyes narrowed and looking directly into yours, I gave you a smile. Then you seems a bit relieved.
That moment, I’ll never forget it.
Disaat kita ikhlas pasti akan diberikan sesuatu yang baik, yang menyejukkan hati, yang bahkan lebih indah dibanding bila kita tetap menggenggam apa yang tak lagi mungkin digenggam. Aku mengalaminya, membuktikannya, meresapinya, dan mensyukurinya. Di banyak momen, ikhlas memberiku keuntungan yang tidak kudapat lewat berkeras hati. Ya, ikhlas itu menguntungkan.
Tapi kemudian disaat ada kesulitan, kesesakan, kebingungan… Ikhlas itu bukan sesuatu yang bisa diingat saat menghadapi kesulitan, kesesakan, kebingungan atau apalah namanya itu. Yang jelas saat rasanya tidak enak, seringkali memori tentang ilmu ikhlas pudar dan tak terbesit sebagai pilihan.
Ketika aku memilih untuk ikhlas, itu bukan karena aku tahu bahwa ikhlas pasti akan mendatangkan peristiwa baik. Aku memilihnya sebagai opsi situasi itu. Opsi yang muncul bukan karna aku tahu kalau kupilih akan baik hasilnya. Singkatnya, aku melepaskan bukan karena tau aku akan mendapat keuntungan lebih jika melepaskan. Opsi yang kupilih karena aku merasa bukan tempatku untuk bertahan, bukan porsiku untuk melawan. Melepaskan tanya yang tak pernah titik dalam benakku, yang memaksaku menggenggam keadaan walau tak lagi kepalanku yg harusnya disana. Ikhlas dalam pikirku adalah memberikan semesta waktu untuk bekerja menyandikan suara-Nya dan kemudian membisikkannya padaku. Dan itu benar. Setelah ikhlas, selalu kudengar Ia berkata.

Spent my free time making this agenda from my thesis-used-paper. I’d just be thrilled with stationary supplies, haha easily pleased. I doodled some creature on it, just a quick doodle, and I plan to do more :D
I LOVE DOODLING MY HEART OUT LOUD :)
So you did me this way. Pushed me aside and left with someone else. A lot of thoughts in my head now, and I couldn’t help but pity you. While you’re busy trying to make yourself looks better, people talk behind you and try so hard to not laugh. For me, it’s still hurtful to watch.
I had been trying to reach you all the time, so by the time you called back I was gone already. There’s no way to turn back time, you had your chance, I tried.
yap.. untuk topik di atas adalah berupa janji pribadi. Janji pribadi dalam hal apa? dan itu foto apa? tidak jelas kawan..
hahaha sudahlah, tidak penting untuk sebuah narasi kecil menjelaskan bahwa itu makanan ternikmat setelah kambing bakar buatan Om Ulun dari Come Being Go Link khas anak Wanadri. hahaha *jadi kangen adventuran lagi ke alam liar.
#ups curhatnya kejauhan.
yap, saya bahas yang saya cicipi saja.. segelas Air putih (yang berwarna putih) sepertii… hmmm.. seperti air cucian beras kalo mau nanak nasi :P *tapi memang itu terbuat dar sari beras yang di fermentasi kok. Dan mereka pun menyebutnya TuaK. minuman Kebersamaan bagi mereka, maka Aku, sebagai seseorang yang bersama mereka,mencicipinya tidaklah akan lepas tuk dilakukan. ya.. dua kali suruput membuatku tertawa sendiri. Bukan karena lebil dan mabok seketika. tapi memang rasanya lucu, seperti jus sirsak kemasan yang kadaluarsa.
“terimakasih Cote telah membuatku tak penasaran akan minuman yang bernama Tuak”
Fin~
Tiga orang muda-mudi duduk di tengah hingar bingar pesta adat. Dua diantaranya keturunan asli yang tak lagi fasih dengan adatnya sendiri, satu orang lagi adalah seorang teman lama yang membantu mengabadikan momen pesta tersebut. Duduk di pojokan, try to figure out what to do next selain foto-foto dan angkut barang sana-sini.
Tuak.
Ini juga pertama kalinya cote mencoba minuman itu. Lucu juga kalau ingat suasana pesta lagi heboh dan tinggalah tiga orang anak muda penasaran dengan minuman butek yang berbau menyengat itu. Cukup satu gelas tak penuh untuk 3 orang.
Rasanya? Enakan Bir Bintang kemana-mana deh~
(Harusnya ekspresi kita bertiga kemaren itu difoto, it’ll be hilarious :DD)
I feel some distance between us. I didn’t realize when or how it starts. Things are pretty much unorganized back then. The thing is, I feel some distance between us and I can’t help myself but believing that you’re the one who sets the distance. Everytime I try to reach you it seems that you don’t want me to get close. Sure, you have every right to do so. I just wonder why.
Funny, sometimes I wonder why I am shocked you lied to me and broke every promise you made. I should have been expecting it. Now I think I get to that breaking point where I wonder what to do next.
Do you want me to let you have your own time or should I stick around? Whatever works.
Just don’t sail too far.







